Insya Allah, hari ini 20 Oktober 2004 (6 Ramadhan 1425 H), Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Jusuf Kalla dilantik sebagai presiden dan wakil presiden RI. Inilah presiden dan wakil presiden pertama Indonesia yang dipilih langsung oleh rakyat. Selamat untuk SBY dan Kalla selamat memasuki dunia pengabdian, juga dunia tak terduga, dunia penuh tikungan, dan bahkan jebakan. Sesungguhnya kursi presiden dan wakil presiden bukanlah kursi empuk. Ia amanah, yang harus dipikul tidak untuk segala fasilitas, kemudahan, dan kehormatan yang menyertainya, melainkan untuk seluruh rakyat dan pemenuhan janji-janji yang telah diucapkan.
Mulai hari ini, SBY-Kalla yang diharap banyak kalangan tetap menjadi dwitunggal masuk dalam putaran hidup yang berbeda. Tidak lagi punya waktu cukup makan bakso bersama wartawan, tidak lagi punya waktu mendengar langsung keluhan rakyat. Segala sesuatu berdasarkan laporan, yang acap kali dibuat indah. Di puncak kekuasaan, sering sekali seorang pemimpin kesepian, lepas dari dunia nyata. Ia akan dikelilingi oleh orang-orang yang ahli memuji, orang-orang bertopeng, dan pendusta. Tanpa disadari, seorang pemimpin terdorong menjadi aktor panggung. Ia tidak tampil untuk penonton yang mencaci, melainkan untuk penonton yang bertepuk tangan dan memuji.
Aktor besar selalu terobsesi memainkan peran-peran besar, spektakuler, dan penuh pujian. Aktor besar tak lagi menginginkan peran-peran kecil, peran pembantu. Aktor besar selalu terdorong ingin pujian, selalu mencari panggung untuk mendapat pujian itu. Hari ini, setelah pelantikan usai, menteri kabinet diumumkan dan sehari kemudian dilantik, maka bulan madu pun berakhir. Tumpukan pekerjaan telah menanti. Perubahan mulai ditagih rakyat satu demi satu. Di sinilah, dunia sesungguhnya itu angin keras, debu, dan bebatuan.
Ajakan ''bersama kita bisa'' pun tidak lagi mudah, karena orang lebih suka memperhatikan dan membuat penilaian. Setiap orang tiba-tiba berubah menjadi juri, menjadi penilai. Bahkan dalam beberapa hal, orang-orang lebih suka mencari kesalahan. Di sinilah, keteguhan seorang pemimpin apabila dia yakin melangkah dengan benar dipertaruhkan. Seorang pemimpin sebaiknya lentur, tapi tidak boleh patah. Ia bukanlah pohon yang patah diterpa angin keras, daunnya meranggas dipalut debu, dan akarnya kering dalam keras bebatuan.
Saya tak ingin mengajari limau berduri, mengajarkan ikan berenang. Tapi, seorang pemimpin tidak boleh mengeluh, tapi mencari jalan keluar dari kerumitan. Kerumitan tidak untuk dihindari, tapi dihadapi. Seorang pemimpin tidak mungkin dapat memuaskan semua orang, tapi harus menyediakan diri sepenuhnya bekerja untuk semua orang. Tapi percayalah, semakin dekat dengan Allah, semakin terbuka segala kemudahan. Selamat untuk Pak SBY dan Pak Kalla; selamat memasuki dunia pengabdian, dunia tak terduga, dunia penuh tikungan, dan bahkan jebakan--dunia angin keras, debu, dan bebatuan. Maka, bekerjalah sepenuhnya untuk rakyat dan carilah ridha Allah.
resonansi, 20 oktober 2004
